Mengevaluasi Tanaman Teh Dengan Kelapa Sawit

1. Hasil Evaluasi Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan adalah tingkat ketepatan sebidang lahan untuk pemakaian tertentu.Kesesuaian lahan tersebut bisa dinilai untuk kondisi sekarang (kesesuaian lahan aktual) alias seusai diadakan pembetulan (kesesuaian lahan potensial).Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah alias sumber daya lahan sebelum lahan tersebut diberbagi masukan masukan yang diperlukan untuk menanggulangi kendala.Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Kesesuaian lahan potensial mengfotokan kesesuaian lahan yang bakal dicapai apabila diperbuat usaha-usaha pembetulan. Lahan yang dievaluasi bisa berupa hutan konversi, lahan terlantar alias tak produktif, alias lahan pertanian yang produktivitasnya tak lebih memuaskan namun tetap memungkinkan untuk bisa ditingkatkan bila komoditasnya diganti dengan tanaman yang lebih sesuai.

Mengevaluasi Tanaman Teh Dengan Kelapa Sawit


Hasil evaluasi kesesuaian lahan menurut FAO (1976) dalam Rayes (2007), biasanya mencakup beberapa tipe info semacam dikemukakan dibawah ini, dimana cakupan masing-masing info tersebut tergantung dari skala dan intensitas kajian.
Kaitan fisik, sosial dan ekonomi yang mendasari diperbuatnya evaluasi. Faktor ini menyangkut data dan anggapan.
Deskripsi tipe pemakaian lahan alias macam mutlak pengguaan lahan yang relevan dengan daerah survei. Terus intensif tingkat kajian, terus detail dan seksama deskripsi tersebut.
Peta, tabel dan bahan-bahan berupa naskah wajib menunjukan tingkat kesesuaian satuan peta lahan dari masing-masing macam pemakaian lahan yang dinilai, beserta kriteria pencirinya. Masing-masing macam pemakaian lahan dievaluasi dengan cara terpisah.
Terus detail survei, terus rinci dan terus seksama pula spesifikasi tersebut. Pada survei semi-detail kebutuhan bakal drainase wajib dijelaskan, sedangkan pada survei detail, sifat dan anggaran pembuatan saluran drainase wajib dikemukakan.
Analisis ekonomi dan sosial sebagai akibat beragamnya tipe pemakaian lahan yang dipertimbangkan.
Data dan peta dasar yang menjadi pertimbangan dalam evaluasi. Hasilnya khususnya klasifikasi kesesuaian lahan, didasarkan pada beberapa info yang penting bagi pemakai individu.Informasi-informasi tersebut wajib terdapat baik sebagai lampiran dari laporan mutlak alias sebagai dokumentasi tersendiri.
2.Proses evaluasi lahan dan arahan pemakaiannya

1. Penyusunan Karakteristik Lahan
Karakteristik lahan yang adalah perpaduan dari sifat-sifat lahan dan lingkungannya diperoleh dari data yang tertera pada legenda peta tanah dan uraiannya, peta/data iklim dan peta topografi/elevasi. Karakteristik lahan diuraikan pada setiap satuan peta tanah (SPT) dari peta tanah, yang meliputi: bentuk wilayah/lereng, drainase tanah, kedalaman tanah, tekstur tanah (lapisan atas 0-30 cm, dan lapisan bawah 30-50 cm), pH tanah, KTK liat, salinitas, kandungan pirit, banjir/genangan dan singkapan permukaan (singkapan batuan di permukaan tanah). Data iklim terdiri dari curah hujan rata-rata tahunan dan jumlah bulan kering, dan suhu udara diperoleh dari stasiun pengamat iklim.Data iklim juga bisa diperoleh dari peta iklim yang telah terdapat, umpama peta pola curah hujan, peta zona agroklimat alias peta isohyet.Peta-peta iklim tersebut biasanya disaapabilan dalam skala kecil, jadi butuh lebih cermat dalam pemakaiannya untuk pemetaan alias evaluasi lahan skala yang lebih besar, umpama skala semi detail (1:25.000-1:50.000). Suhu udara didapatkan dari stasiun pengamat iklim di lokasi yang bakal dievaluasi.

2. Penyusunan Persyaratan Tumbuh Tanaman
Persyaratan tumbuh bisa diperoleh dari beberapa referensi, semacam pada Djaenudin et al. (2003).Untuk evaluasi lahan di Kabupaten Aceh Barat beberapa modifikasi telah dibangun sesuai dengan kondisi lapangan dan referensi lainnya.Modifikasi yang diperbuat di antaranya adalah untuk tanaman cengkeh dan kakao pada tanah gambut dan drainase terhambat digolongkan sebagai tak sesuai.Demikian pula untuk parameter tekstur tanah untuk tanaman tahunan, tak hanya lapisan atas yang dipakai namun juga kombinasi dengan lapisan bawahnya.

3. Proses Evaluasi Kesesuaian Lahan (Matching)
Seusai data karakteristik lahan terdapat, maka proses selanjutnya adalah evaluasi lahan yang diperbuat dengan tutorial matching (mentepatan) antara karakteristik lahan pada setiap satuan peta tanah (SPT) dengan persyaratan tumbuh/pemakaian lahan. Istilah pembandingan (matching) dipakai untuk menguraikan proses dimana persyaratan yang diperlukan untuk sebuahpemakaian lahan dibandingkan dengan kondisi lahan untuk menduga keragaan pemakaian lahan. Pembandingan antara persyaratan pertumbuhan tanaman alias persyaratan dari sebuahtipe pemakai lahan (TPL) dan nilai lahan (SPL) bakal menghasilkan kelas kesesuaian lahan beserta faktor pembatasnya. Diantara beberapa TPL tersebut bisa diketahui mana yang lebih sesuai (mana yang paling memberbagi keuntungan yang lebih besar) untuk setiap SPL di daerah yang disurvei.Persyaratan pemakaian lahan masing-masing tanaman bisa mengacu pada Sys et al. (1983), Djaenudin et al. (2002).

4. Kesesuaian Lahan Terpilih / Penentuan Arahan Pemakaian Lahan Untuk Tanaman Tahunan
Untuk menyusun arahan pemakaian lahan dari beberapa pilihan komoditas yang sesuai, butuh dipertimbangkan prioritas daerah dan pemakaian lahan aktual. Dalam penyusunan kesesuaian lahan terpilih ini, untuk kelompok tanaman pangan dan sayuran, hanya lahan-lahan yang tergolong kelas Sesuai (kelas S1 dan S2) saja yang dipertimbangkan, sedangkan untuk tanaman perkebunan dan tanaman buah-buahan, tidak hanya lahan yang tergolong kelas Sesuai (S1 dan S2), juga ditambah dengan lahan yang tergolong kelas Sesuai Marginal (kelas S3) sebab tanaman tahunan lebih diprioritaskan dalam proyek ini. Tutorial penentuan arahan komoditas unggulan berdasarkan kesesuaian lahan dan pemakaian lahan disaapabilan pada Tabel 11. Dalam menyusun arahan ini, lahanlahan yang telah dipakai dan bersifat permanen, umpama perkebunan dan sawah bakal dipertahankan selagi kelas kesesuaiannya tergolong sesuai dan tak membahayakan kondisi lingkungan. Lahan-lahan demikian diarahkan untuk intensifikasi dalam rangka peningkatan produktivitas.Pada lahan yang belum dipakai dengan cara intensif sebagai areal pertanian, umpama semak/belukar, hutan yang bisa dikonversi alias lahan pertanian terlantar diarahkan sebagai areal ekstensifikasi tanaman yang sesuai (Ritung dan Hidayat, 2003).

3. Menaksir Potensi untuk Pengembangan Pertanian

a. Konsep evaluasi dan kesesuaian lahan
Evaluasi lahan adalah sebuahproses penilaian sumber daya lahan untuk tujuan tertentu dengan memakai sebuahpendekatan alias tutorial yang telah teruji. Hasil evaluasi lahan bakal memberbagi info dan/atau arahan pemakaian lahan sesuai dengan kebutuhan. Menaksir potensi pengembangan pertanian dari hasil evaluasi lahan bisa dikaitkan dengan mencari kesesuaian lahan yang didasarkan pada hasil survei.Kesesuaian lahan adalah tingkat ketepatan sebidang lahan untuk pemakaian tertentu.Kesesuaian lahan tersebut bisa dinilai untuk kondisi sekarang (kesesuaian lahan aktual) alias seusai diadakan pembetulan (kesesuaian lahan potensial).

Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah alias sumber daya lahan sebelum lahan tersebut diberbagi masukan-masukan yang diperlukan untuk menanggulangi kendala.Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Kesesuaian lahan potensial mengfotokan kesesuaian lahan yang bakal dicapai apabila diperbuat usaha-usaha pembetulan. Lahan yang dievaluasi bisa berupa hutan konversi, lahan terlantar alias tak produktif, alias lahan pertanian yang produktivitasnya tak lebih memuaskan namun tetap memungkinkan untuk bisa ditingkatkan bila komoditasnya diganti dengan tanaman yang lebih sesuai .

b. Pengembangan Pertanian berdasar Hasil Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan mencakup interpretasi data kondisi fisik lingkungan dan tanah dalam sebuahlahan. Setiap karakteristik lahan yang dipakai dengan cara langsung dalam evaluasi ada yang bersifat tunggal dan ada yang bersifat ganda, sebab memiliki interaksi satu sama lainnya. Sebabnya dalam interpretasi butuh mempertimbangkan alias memperbandingkan lahan dengan pemakaiannya dalam arti nilai lahan. Pertanian tak lepas dari tanah dan lingkungan.Potensi pengembangan pertanian bisa ditinjau berdasar hasil evaluasi kondisi keterdapatan air dan media perakaran (tekstur tanah dan kedalaman zone perakaran tanaman).

Luas lahan pertanian di Indonesia mencapai 70,20 juta ha, terdiri atas sawah 7,9 juta ha, tegalan 14,6 juta ha (BPS 2008). Masing-masing pemakaian lahan tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan, baik kondisi iklim mapupun kondisi tanahnya. Dengan demikian, dari hasil evaluasi lahan tersebut bisa dipakai sebagai penentu arah pemilihan komoditas paling sesuai supaya didapat hasil yang maksimal. Dalam menyusun arahan ini, lahan-lahan yang telah dipakai dan bersifat permanen, umpama perkebunan dan sawah bakal dipertahankan selagi kelas kesesuaiannya tergolong sesuai dan tak membahayakan kondisi lingkungan. Lahan-lahan demikian diarahkan untuk intensifikasi dalam rangka peningkatan produktivitas.Pada lahan yang belum dipakai dengan cara intensif sebagai areal pertanian, umpama semak/belukar, hutan yang bisa dikonversi alias lahan pertanian terlantar diarahkan sebagai areal ekstensifikasi tanaman yang sesuai (Ritung dan Hidayat, 2003).

4. Akibat negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantara nya:

1. Masalah tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi.Hilangnya keaneka ragaman hayati ini bakal memicu bagustanan kondisi alam berupa menurunnya nilai lahan disertai erosi, hama dan penyakit.

2. Pembukaan lahan tak jarang kali diperbuat dengan tutorial tebang habis dan land clearing dengan tutorial pembakaran demi efesiensi anggaran dan waktu.

3. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur semacam sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online). Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh beberapa macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.

4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas sebab tipe hama baru ini bakal mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan hewan lainnya. Ini dikarenakan sebab keterbatasan lahan dan tipe tanaman akibat monokulturasi.

5. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan tutorial pembakaran dan pembuangan limbah, adalah cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk nasib dalam jangka waktu yang lama. Faktor ini terus merajalela sebab sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang meperbuat kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.

6. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.

7. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit tak jarangkali menjadi penyebab mutlak bencana alam semacam banjir dan tanah longsor

5. Argumen alih Manfaat Lahan Tanaman Teh Ke Tanaman Kelapa Sawit

Penelitian ini berfungsi untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi alih manfaat lahan tanaman perkebunan Teh menjadi perkebunan Kelapa Sawit di PTPN IV Kabupaten Simalungun. Penelitian ini memakai data primer dengan media kuesioner dan data sekunder kurun waktu (time series) 6 tahun. Metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah Ordinary Least Square (OLS) pada =1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas perkebunan teh menurun rata-rata 61,55 Ton/ Ha/Tahun, penyerapan tenaga kerja perkebunan teh menurun rata-rata 725,67 HOK/Tahun dan produktivitas tenaga kerja perkebunan teh menurun rata-rata 1,09 Ton/Ha/Tahun. Harga teh dan jumlah tenaga kerja berpengaruh negatif dan signifikan sedangkan harga TBS berpengaruh positif dan signifikan kepada alih manfaat (konversi) tanaman Perkebunan Teh menjadi Perkebunan Kelapa Sawit. Harga Teh, harga TBS dan jumlah tenaga kerja dengan cara bersama-sama berpengaruh signifikan kepada alih manfaat Tanaman Perkebunan Teh menjadi Perkebunan Kelapa Sawit di PTPN IV Kabupaten Simalungun.

Related Posts:

Disqus Comments
Diberdayakan oleh Blogger.
© 2017 digitallard.com - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger